Salam.
Pagi ini , saya mempunyai artikel yang saya kutip dari sebuah media Koran , Hal ini berkaitan tentang kedisplinan suatu Bangsa dalam menjalankan Hukum . Semoga kita sama-sama bisa mengambil hikmah yang terkandung pada bacaan di bawah ini .
Di Jepang Walaupun Budaya berlalu lintas sudah
terbentuk , kampanye safety riding di
Jepang terus dilakukan . Honda , misalnya , mendirikan sekolah khusus untuk
mendidik dan menyosialisasikan keselamatan berkendara. Salah satunya Suzuka
Traffic Education Center (STEC) yang ada di sirkuit Suzuka . Lembaga tersebut
berdiri pada 1964 , dua tahun setelah sirkuit Suzuka dibuka untuk public.
STEC berada di dalam area Sirkuit
Suzuka . Selain materi tes praktik , peserta pelatihan mendapatkan teori di
dalam kelas. Layaknya lembaga pendidikan , STEC mempunyai kurikulum khusus
terkait safety riding . Tujuannya , peserta yang
menimba ilmu disana mendapatkan teknik berkendara yang baik . Program pelatihan
diberikan secara kontinu dan menyasar banyak kalangan. Mulai professional
sampai masyarakat umum.
“Kami mengundang banyak orang
dari luar Jepang untuk belajar di STEC . Kami berharap semakin banyak orang
yang datang dan berlatih disini ,” kata Yoshida.
Dengan melahap materi pelatihan
di STEC, peserta diharapkan mendapatkan ilmu tentang berkendara yang aman.
Meski begitu , Yoshida mengingatkan bahwa kunci penting dalam safety riding tidak sekedar ada pada
teknik berkendara yang baik. Yang jauh lebih penting adalah perilaku sang
pengendara.“ Safety riding tidak
hanya teknik , tapi juga perilaku pengendara. Level berkendara setiap orang
berbeda-beda . Namun ,semua wajib memiliki perilaku yang baik saat di jalan,
“ujar pria yang juga presiden The 14th Safety Japan Instructors Competition
2013 tersebut.
Ketatnya kurikulum safety riding di STEC dirasakan pada
peserta The 14th Safety Japan Instructors Competition 2013 yang
digelar 14-15 November lalu. Di antara para peserta , tiga orang berasal dari
Indonesia. Yakni , Maryanto,Ahmad Anugra, dan Aldea Henry. Mereka adalah tiga
instruktur terbaik tanah air yang dikirim oleh PT Astra Honda Motor (AHM).
Para peserta menjalani tiga rangkaian
tes. Dimulai dengan pengereman atau braking
. Setiap peserta wajib memacu motor
atau mobil dengan kecepatan yang ditentukan. Nah, pada titik yang ditetapkan , mereka harus mengerem. Juri
menilai kestabilan para peserta dalam mengendalikan kendaraan.
Materi lain adalah narrow plank . Yakni , keterampilan
melewati papan sepanjang 15 meter dengan lebar hanya 30 sentimeter. Alhasil ,
pengendara dipaksa ekstra hati-hati. Mereka harus selambat mungkin melewati
papan tersebut. Jika jatuh , mereka dinyatakan gugur. Peserta juga wajib
mempertahankan posisi sempurna di atas kendaraan. Kedua kaki harus terus
merapat pada tangki motor.
Standar penilaian narrow plank di STEC sangat ketat. Tiga
juri mengawasi langsung para peserta saat membawa motor meniti papan besi.
Sedikit saja peserta melanggar regulasi, meski berhasil melewati papan, juri
akan mengurangi poinnya . Di Jepang , standar waktu melewati narrow
plank adalah 2 menit. Karena itu , para Instuktur STEC sangat
piawai. Mereka bahkan bisa sampai “diam” untuk beberapa saat di atas papan
besi. Adapun di Indonesia standarnya hanya 30 detik. “Standar di sini (Jepang)
lebih tinggi. Peratutan juga lebih detail,” kata Aldea , peserta asal Bandung ,
yang akhirnya menjadi runner-up kategori
motor kelas 100 cc.
Membentuk budaya santun berlalu
lintas tentu tidak mudah. Perilaku masyarakat sangat menentukan. Seketat apapun
peraturan, tidak akan efektif jika manusianya memang tidak memiliki kemauan
untuk berdisiplin. Nah , di Jepang ,
kedisiplinan dibentuk sejak kecil dan menyangkut semua lini kehidupan.
Kesantunan warga Jepang tidak hanya saat berada di jalan. Perilaku itu terjaga
di semua aspek kehidupan. Pertanyaannya : kalau orang Jepang bisa , mengapa
masyarakat Indonesia tidak ? (*/c2/agm)
Dulur ,,,
"Keselamatan Nyawa itu penting , So Taati Hukum Lalu Lintas"
#mauberubah.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar