Ada 3 Remaja , Feri , Rafi , dan Feni. Mereka bertiga adalah Mahasiswa. Masing-masing dari mereka punya sifat yang berbeda. Dimana Feri seringkali hanya menggunakan akalnya tanpa mempertimbangkan perasaan. Dan Rafi, hanya menggunakan perasaannya tanpa berfikir panjang dengan akal. Dan Feni bisa mengombinasi akal dan perasaannya dengan seimbang. :D
Pada suatu ketika , mereka mempunyai
pekerjaan yang sama. Dimana pekerjannya adalah membantu Pengemis di jalanan yang
masih ibu-ibu, bapak2 , dan remaja .
Pada waktu itu, Rafi yang memiliki perasaan
tinggi Langsung mencoba sekeras mungkin untuk tetap menghidupi mereka dengan
memberikan uang santunan dan beberapa sembako (nasi,dkk). Rafi yang pada waktu
itu masih kuliah sering kali meminta uang kepada orangtuanya yang kaya dan
memintanya kadang2 alasan lain untuk jajan/biaya sekolah. Akhirnya hari demi
hari,minggu demi minggu dan akhirya genap 1 bulan. Rafi yang selalu minta uang
kepada orangtuanya, tidak diberikan lagi sama orangtuanya. Dikarenakan ortu
Rafi sudah krisis keuangan. Dan pada waktu itu, Rafi bingung untuk mencari uang
lagi untuk menghidupi pengemis2 tadi, akhirnya dikarenkan perasaan Rafi yang
lebih tinggi untuk membantu pengemis itu, Rafi sekali2 mencoba2 untuk mencuri
barang2 pribadi milik saudara2nya.dst. Namun, apa yang terjadi.. Ketika Rafi
tidak mampu memberikan kehidupan bagi para pengemis, mereka selalu menuntut
rafi untuk bisa membantu dan begitulan seterusnya. Akhirnya pun Rafi bingung
dan berusaha untuk melarikan diri dari semua tanggung jawabnya dan Rafi
melarikan diri dari rumah. Dan suatu ketika, di perjalanan melarikan diri, Rafi
tertabrak motor dan akhirnya dibawa ke rumah sakit terdekat . Namun, harapan
dan keyakinan sudah tidak ada lagi bagi Rafi. Akhirnya Rafi meninggal dengan
keadaan yang bingung akan masalahnya dan tidak bisa menanggungjawabkan
perilaku-perilaku yang sudah di perbuat.
Beda halnya dengan kisah Feri, dimana akalnya
yang di utamakan. Pada seketika itu, Feri langsung mencari cara untuk membuat
Pengemis bisa bertahan hidup tanpa mengemis lagi. Akhirnya Feri, mencari cara
yang efektif dengan langsung memperkerjakan mereka semua di rumahnya. Ada yang
membantu membersihkan rumah, menyapu, mengepel, mencuci mobil yang jumlah
mobilnya sejumlah 7. Dan kadang, pengemis yang laki2 di suruh untuk memperbaiki
genteng rumahnya yang sangat tinggi seperti menara. Kadang, ada pngemis
perempuan yang disuruh untuk memasak dan melayani tuan rumah disitu. Semua yang
dipikirkan Feri, adalah cara efektif untuk memberikan kehidupan pada pengemis
agar tetap bisa bertahan hidup tanpa mengemis. Jadi, mereka semua setelah
selesai bekerja , tiap pagi , siang dan malam diberikan makan sesuai porsinya.
Setelah itu pada malamnya mereka di istirahatkan di gudang yang awalnya sudah
dibersihkan oleh mereka. Semua hal di atas, terus berjalan hari demi hari ,
minggu demi minggu .
Setelah 1 bulan, Feri kehilangan salah satu
jam antiknya, dengan secara reflek, Feri langsung menuduh para pengemis itu ,
namun pada akhirnya mereka tidak ada yang mengaku. Dan Feri memberikan hukuman
pada mereka dengan memberikan jatah makan hanya 2 x. Namun, dibulan2 berikutnya
Feri kehilangan lagi Jam antiknya yang baru dibeli, dan hukuman pun tetap
diberikan walaupun ada salah satu pengemis yang berpura2 mengaku telah
mencurinya. Hukumannya adalah jatah makannya hanya 1x dalam 1 minggu. Lama
kelamaan, para pengemis tidak tahan lagi dengan perlakuan Feri. Akhirnya , para
pengemis brusaha untuk kabur dan melarikan diri dari rumah istanannya. Namun,
ketika mereka berusaha melarikan diri, mereka diketahui oleh Feri dan akhirnya
di suruh bekerja lagi . Beberapa hari setelah itu, ada salah satu pengemis yang
menggunakan telpon rumah Feri mencoba menghubungi Polisi, dikarenakan sudah
dipekerjakan dengan paksa. Akhirnya beberapa jam kemudian, sekelompok Polisi
menggerobok rumah istana Feri dan akhirnya menangkap Feri dan menjebloskannya
ke Penjara. Namun, dikarenakan orangtua Feri yang sangat kaya, ortu Feri
langsung menebus Polisi setelah itu. Dan Feri pun bebas.
Akan
tetapi.. Beberapa hari kemudian, kedua ortu Feri terkena kasus Korupsi dan
mereka semua dipenjarakan dan uang hasil korupsi semua di sita termasuk rumah
istananya. Feri pun, kebingungan dan hidup dengan saudaranya yang ternyata
telah mencuri Jam Feri pada waktu itu. Saudaranya yang tidak akur dengan Feri,
langsung meninggalkannya ..
Feri pun akhirnya hidup sendiri dengan kehidupan
yang sederhada tanpa rumah istananya, Feri pun menjadi gelandangan dan sesekali
dia menjadi penyopet. Namun, ketika Feri dalam aksi pencopetannya yang ke 3 x,
Feri tertangkap basah oleh petugas polisi yang bertugas di TKP. Feri pun juga
di jebloskan ke penjara. Dan beberapa hari kemudian, Feri yang pada waktu itu,
dipenuhi dengan rasa bingung, menyesal dan selainnya, akhirnya Feri bunuh diri.
Semua kedua cerita di atas, tidaklah nyata. Akan tetapi
semua hal yang di ceritakan bisa kemungkinan terjadi, ketika kita seperti Rafi
dan Feri. Yang hanya focus pada perasaan atau hanya mementingkan akal.
Selanjutnya, cerita dibawah ini pun juga tidak fakta,
namun saya berharap kia bisa mengambil hikmahnya :D.
Feni,
yang pandai dan bisa mengendalikan akal dan perasaannya secara seimbang dan
tahu kapan harus menggunakan akal dan kapan menggunakan perasaan.
Dengan tugas yang sama untuk membantu pengemis untuk
tetap bertahan hidup, tanpa mengemis lagi. Awalkali Feni berusaha membuat
perencanaan , dia mencari cara yang efektif dan efisien untuk memberikan
kehidupan kepada para pengemis secara jangka panjang. Setelah perencanaan yang
sudah ia buat, dia langsung mengajak para pengemis untuk di bimbing dan di
latih di sanggar milik orantuanya. Di sanggar tsb, mereka di berikan pelatihan
dan bimbingan berupa keahlian /keterampilan yang nantinya dijadikan bekal
mereka untuk membuat usaha. Mereka di didik secara moral dan selalu diberi
motivasi agar tidak mengemis lagi dan mau berusaha dan bekerja keras. Setelah
beberapa bulan kemudian, para pengemis
tadi sudah ahli di bidangnya masing-masing, ada yang pandai menjahit, melukis,
membuat kerajinan tangan, membuat kue, dsb. Mereka semua ketika keluar dari
sanggar ortu Feni, diberikan modal berupa uang untuk mendirikan usahanya dan
berusaha bertahan (tanpa mengemis). Para pengemis tadi, keluar dari sanggar
dengan lapang dada, tanpa adanya paksaan .. Mereka keluar dari sanggar,
dikarenkan sudah ahli dalam bidangnya masing2.Selama masa pelatihan, tidak
satupun para pengemis yang mengeluh. Akan tetapi, mereka nyaman dengan
perlakuan keluarga Feni yang baik dan telaten dalam membimbing mereka. Mereka
pun tidak pernah diberi hukuman ketika melakukan kesalahan, tetapi diberi
petunjuk dan di ajari yang benar. Mereka pun, selalu diberi makan tiap harinya
(3x sehari), dan kadang-kadang pernah di ajak refreshing untuk menikmati
keindahan alam sekitar.
Setelah beberapa tahun kemudian, para
pengemis tadi yang sudah keluar dari sanggar Feni. Usahanya sudah beberapa ada
yang sudah berkembang dan secara mayoritas tidak ada yang mengemis lagi di
jalanan. Dan mereka pun, bisa menghidupi kebutuhannya sehari2. Seketika itu, Feni
sangat bahagia dan bangga dengan apa yang dilakukannya. Hari demi hari, selalu
dia sempatkan untuk menengok para (mantan pengemis) yang sekarang sudah punya
usaha sendiri. Kehidupan mereka dienuhi dengan tawa dan senyum yang bahagia. Feni,
pun merasakan kebahagiaan itu di mata mereka. Bulan demi bulan, Tahun demi tahun
sudah berjalan , akhirnya Feni semakin tua. Akan tetapi, di umur senjanya ini
dia tetap sangat baik hati terhadap orang-orang yang membutuhkan uluran
tangannya. Dia masih membantu pengemis2
di jalan yang membutuhkan pelatihan usahanya, namun waktu tidak di duga. Ketika
di saat Feni selesai memberikan pelatihan dan istirahat di kamarnya. Feni pun
tertidur lelap dan tidak bangun lagi. Ternyata, dia sudah dipanggil oleh Sang
Maha Kuasa. Feni meninggal dengan keadaan khusnul khotimah dan memberikan
berbagai kebaikan kepada semua orang. Dan dengan kerja kerasnya , Feni
menjadikan banyak pengemis, bisa hidup sendri tanpa uluran tangan orang lain.
Dan disinilah………… dapat kita ketahui bersama, Feni telah meninggalkan karya
yang bermanfaat pula bagi orang selainnya.
Catatan : Maaf , jika ada nama,tempat,alur cerita
yang sama . Ini ada sedikit unsur kesengajaan Cerita di atas, bisa di ambil
hikmah. Semoga kita disni tau pentingnya keseimbangan menggunakan akal dan perasaan kita ,
dan kita smakin mengerti akan makna hidup dan selalu mensyukuri apa yang
menjadi keterbatasan kita. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
#mauberubah.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar