Minggu, 15 Desember 2013

HIKMAH , DI BALIK CERITA FIKTIF BELAKA


Ada 3 Remaja , Feri , Rafi , dan Feni. Mereka bertiga adalah Mahasiswa. Masing-masing dari mereka punya sifat yang berbeda. Dimana Feri seringkali hanya menggunakan akalnya tanpa mempertimbangkan perasaan. Dan Rafi, hanya menggunakan perasaannya tanpa berfikir panjang dengan akal. Dan Feni bisa mengombinasi akal dan perasaannya dengan seimbang. :D
Pada suatu ketika , mereka mempunyai pekerjaan yang sama. Dimana pekerjannya adalah membantu Pengemis di jalanan yang masih ibu-ibu, bapak2 , dan remaja .

Pada waktu itu, Rafi yang memiliki perasaan tinggi Langsung mencoba sekeras mungkin untuk tetap menghidupi mereka dengan memberikan uang santunan dan beberapa sembako (nasi,dkk). Rafi yang pada waktu itu masih kuliah sering kali meminta uang kepada orangtuanya yang kaya dan memintanya kadang2 alasan lain untuk jajan/biaya sekolah. Akhirnya hari demi hari,minggu demi minggu dan akhirya genap 1 bulan. Rafi yang selalu minta uang kepada orangtuanya, tidak diberikan lagi sama orangtuanya. Dikarenakan ortu Rafi sudah krisis keuangan. Dan pada waktu itu, Rafi bingung untuk mencari uang lagi untuk menghidupi pengemis2 tadi, akhirnya dikarenkan perasaan Rafi yang lebih tinggi untuk membantu pengemis itu, Rafi sekali2 mencoba2 untuk mencuri barang2 pribadi milik saudara2nya.dst. Namun, apa yang terjadi.. Ketika Rafi tidak mampu memberikan kehidupan bagi para pengemis, mereka selalu menuntut rafi untuk bisa membantu dan begitulan seterusnya. Akhirnya pun Rafi bingung dan berusaha untuk melarikan diri dari semua tanggung jawabnya dan Rafi melarikan diri dari rumah. Dan suatu ketika, di perjalanan melarikan diri, Rafi tertabrak motor dan akhirnya dibawa ke rumah sakit terdekat . Namun, harapan dan keyakinan sudah tidak ada lagi bagi Rafi. Akhirnya Rafi meninggal dengan keadaan yang bingung akan masalahnya dan tidak bisa menanggungjawabkan perilaku-perilaku yang sudah di perbuat.
Beda halnya dengan kisah Feri, dimana akalnya yang di utamakan. Pada seketika itu, Feri langsung mencari cara untuk membuat Pengemis bisa bertahan hidup tanpa mengemis lagi. Akhirnya Feri, mencari cara yang efektif dengan langsung memperkerjakan mereka semua di rumahnya. Ada yang membantu membersihkan rumah, menyapu, mengepel, mencuci mobil yang jumlah mobilnya sejumlah 7. Dan kadang, pengemis yang laki2 di suruh untuk memperbaiki genteng rumahnya yang sangat tinggi seperti menara. Kadang, ada pngemis perempuan yang disuruh untuk memasak dan melayani tuan rumah disitu. Semua yang dipikirkan Feri, adalah cara efektif untuk memberikan kehidupan pada pengemis agar tetap bisa bertahan hidup tanpa mengemis. Jadi, mereka semua setelah selesai bekerja , tiap pagi , siang dan malam diberikan makan sesuai porsinya. Setelah itu pada malamnya mereka di istirahatkan di gudang yang awalnya sudah dibersihkan oleh mereka. Semua hal di atas, terus berjalan hari demi hari , minggu demi minggu .

Setelah 1 bulan, Feri kehilangan salah satu jam antiknya, dengan secara reflek, Feri langsung menuduh para pengemis itu , namun pada akhirnya mereka tidak ada yang mengaku. Dan Feri memberikan hukuman pada mereka dengan memberikan jatah makan hanya 2 x. Namun, dibulan2 berikutnya Feri kehilangan lagi Jam antiknya yang baru dibeli, dan hukuman pun tetap diberikan walaupun ada salah satu pengemis yang berpura2 mengaku telah mencurinya. Hukumannya adalah jatah makannya hanya 1x dalam 1 minggu. Lama kelamaan, para pengemis tidak tahan lagi dengan perlakuan Feri. Akhirnya , para pengemis brusaha untuk kabur dan melarikan diri dari rumah istanannya. Namun, ketika mereka berusaha melarikan diri, mereka diketahui oleh Feri dan akhirnya di suruh bekerja lagi . Beberapa hari setelah itu, ada salah satu pengemis yang menggunakan telpon rumah Feri mencoba menghubungi Polisi, dikarenakan sudah dipekerjakan dengan paksa. Akhirnya beberapa jam kemudian, sekelompok Polisi menggerobok rumah istana Feri dan akhirnya menangkap Feri dan menjebloskannya ke Penjara. Namun, dikarenakan orangtua Feri yang sangat kaya, ortu Feri langsung menebus Polisi setelah itu. Dan Feri pun bebas.

 Akan tetapi.. Beberapa hari kemudian, kedua ortu Feri terkena kasus Korupsi dan mereka semua dipenjarakan dan uang hasil korupsi semua di sita termasuk rumah istananya. Feri pun, kebingungan dan hidup dengan saudaranya yang ternyata telah mencuri Jam Feri pada waktu itu. Saudaranya yang tidak akur dengan Feri, langsung meninggalkannya ..

Feri pun akhirnya hidup sendiri dengan kehidupan yang sederhada tanpa rumah istananya, Feri pun menjadi gelandangan dan sesekali dia menjadi penyopet. Namun, ketika Feri dalam aksi pencopetannya yang ke 3 x, Feri tertangkap basah oleh petugas polisi yang bertugas di TKP. Feri pun juga di jebloskan ke penjara. Dan beberapa hari kemudian, Feri yang pada waktu itu, dipenuhi dengan rasa bingung, menyesal dan selainnya, akhirnya Feri bunuh diri.
Semua kedua cerita di atas, tidaklah nyata. Akan tetapi semua hal yang di ceritakan bisa kemungkinan terjadi, ketika kita seperti Rafi dan Feri. Yang hanya focus pada perasaan atau hanya mementingkan akal.
Selanjutnya, cerita dibawah ini pun juga tidak fakta, namun saya berharap kia bisa mengambil hikmahnya  :D.
                Feni, yang pandai dan bisa mengendalikan akal dan perasaannya secara seimbang dan tahu kapan harus menggunakan akal dan kapan menggunakan perasaan.

Dengan tugas yang sama untuk membantu pengemis untuk tetap bertahan hidup, tanpa mengemis lagi. Awalkali Feni berusaha membuat perencanaan , dia mencari cara yang efektif dan efisien untuk memberikan kehidupan kepada para pengemis secara jangka panjang. Setelah perencanaan yang sudah ia buat, dia langsung mengajak para pengemis untuk di bimbing dan di latih di sanggar milik orantuanya. Di sanggar tsb, mereka di berikan pelatihan dan bimbingan berupa keahlian /keterampilan yang nantinya dijadikan bekal mereka untuk membuat usaha. Mereka di didik secara moral dan selalu diberi motivasi agar tidak mengemis lagi dan mau berusaha dan bekerja keras. Setelah beberapa bulan  kemudian, para pengemis tadi sudah ahli di bidangnya masing-masing, ada yang pandai menjahit, melukis, membuat kerajinan tangan, membuat kue, dsb. Mereka semua ketika keluar dari sanggar ortu Feni, diberikan modal berupa uang untuk mendirikan usahanya dan berusaha bertahan (tanpa mengemis). Para pengemis tadi, keluar dari sanggar dengan lapang dada, tanpa adanya paksaan .. Mereka keluar dari sanggar, dikarenkan sudah ahli dalam bidangnya masing2.Selama masa pelatihan, tidak satupun para pengemis yang mengeluh. Akan tetapi, mereka nyaman dengan perlakuan keluarga Feni yang baik dan telaten dalam membimbing mereka. Mereka pun tidak pernah diberi hukuman ketika melakukan kesalahan, tetapi diberi petunjuk dan di ajari yang benar. Mereka pun, selalu diberi makan tiap harinya (3x sehari), dan kadang-kadang pernah di ajak refreshing untuk menikmati keindahan alam sekitar.

Setelah beberapa tahun kemudian, para pengemis tadi yang sudah keluar dari sanggar Feni. Usahanya sudah beberapa ada yang sudah berkembang dan secara mayoritas tidak ada yang mengemis lagi di jalanan. Dan mereka pun, bisa menghidupi kebutuhannya sehari2. Seketika itu, Feni sangat bahagia dan bangga dengan apa yang dilakukannya. Hari demi hari, selalu dia sempatkan untuk menengok para (mantan pengemis) yang sekarang sudah punya usaha sendiri. Kehidupan mereka dienuhi dengan tawa dan senyum yang bahagia. Feni, pun merasakan kebahagiaan itu di mata mereka. Bulan demi bulan, Tahun demi tahun sudah berjalan , akhirnya Feni semakin tua. Akan tetapi, di umur senjanya ini dia tetap sangat baik hati terhadap orang-orang yang membutuhkan uluran tangannya.  Dia masih membantu pengemis2 di jalan yang membutuhkan pelatihan usahanya, namun waktu tidak di duga. Ketika di saat Feni selesai memberikan pelatihan dan istirahat di kamarnya. Feni pun tertidur lelap dan tidak bangun lagi. Ternyata, dia sudah dipanggil oleh Sang Maha Kuasa. Feni meninggal dengan keadaan khusnul khotimah dan memberikan berbagai kebaikan kepada semua orang. Dan dengan kerja kerasnya , Feni menjadikan banyak pengemis, bisa hidup sendri tanpa uluran tangan orang lain. Dan disinilah………… dapat kita ketahui bersama, Feni telah meninggalkan karya yang bermanfaat pula bagi orang selainnya.
Catatan  : Maaf , jika ada nama,tempat,alur cerita yang sama . Ini ada sedikit unsur kesengajaan Cerita di atas, bisa di ambil hikmah. Semoga kita disni tau pentingnya keseimbangan menggunakan akal dan perasaan kita , dan kita smakin mengerti akan makna hidup dan selalu mensyukuri apa yang menjadi keterbatasan kita. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
#mauberubah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar